Thursday, June 19, 2014

Bias

Chapter 2 : Rinai

            Uap air lembut dari langit turun bagai permata. Membasahi bumi yang penuh dengan dahaga. Tetes-tetes air kini menyelimuti tubuhnya. Membalut luka pada raga dan hatinya.
            Angin berkejaran bersama rinai, menyapa nyiur yang bergerak dan melambai. Deburan ombak membilas pantai, hanyutkan pasir dalam kesunyian tenang pesisir. Namun rinai pergi tanpa bicara, tinggalkan sesosok anak manusia akan rindunya pada angkasa.

Di depan sebuah pintu besi Tori berdiri, merasakan buaian angin dan tetes-tetes kecil air. Jubah hitamnya terkibar angin, bergerak dan meronta, melawan tubuhnya yang terasa kaku. Pupil matanya menangkap cayaha yang terpantul dari sosok itu. Syaraf otaknya menerjemahkan sosok yang terbaring di dekat pagar pembatas itu.
Kulit pucatnya berkilau di bawah sinar bulan biru. Rambut pendeknya berwarna abu-abu, pakaiannya berwarna senada dengan celana hitam pendek. Di sekitarnya bulu-bulu putih berserakan, dengan warna merah sebagai hiasan. Darah?. Anak-anak itu, anak ini? Bagaimana bisa hal seperti ini terlewat dari pandanganku? Pikirnya frustasi. Otaknya sempat menolak apa yang dia lihat, namun berapa kali pun dia mengerjapkan matanya, tak ada yang berubah. Bocah kecil itu masih bersandar di sana.
 Dengungan singkat terdengar, menandakan Derura telah menerima pesannya. Bala bantuan akan segera datang. Jantungnya berdegub lebih kencang. Kenapa?. Entah mengapa, rasa panik menjalar di tubuhnya. Tori melihat bocah laki-laki yang sekarang berada tepat di depannya. Haruskah Derura mengetahui ini? Pikirnya.
Sekarang anak itu telah berada di atas punggungnya. Tanpa banyak berpikir dia mengeluar sebuah botol dari saku celananya dan membuka tutupnya. Botol itu mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti cairan berwarna kuning. Volume cairan yang keluar dari botol coklat itu terus bertambah, bergerak dan menyapu sisa-sisa darah yang ada di sana.
Pohon-pohon di depannya terlihat semakin besar dan bercabang, sepertinya ia telah masuk jauh ke dalam hutan. Dia terus berlari, meskipun ranting-ranting pohon itu cukup menyulitkannya bergerak dan memberikan dia goresan dimana-mana. Entah apa itu juga melukai bocah di punggungnya.
Tess... Suara titik air yang jatuh terdengar menggema di telinganya. Perlahan kian semarak, berlomba turun ke tanah yang ia pijak.

Tori hanya bisa terus berlari. Matanya menjelajah, mencari tempat untuk bersinggah. Gua?. Ya, di sana, di seberang sungai berbatu terjal yang ada depannya. Dengan sigap dia melompati batu-batu itu, bergegas sebelum hujan turun semakin deras.

No comments:

Post a Comment