Chapter 2 : Rinai
Uap
air lembut dari langit turun bagai permata. Membasahi bumi yang penuh dengan
dahaga. Tetes-tetes air kini menyelimuti tubuhnya. Membalut luka pada raga dan
hatinya.
Angin
berkejaran bersama rinai, menyapa nyiur yang bergerak dan melambai. Deburan
ombak membilas pantai, hanyutkan pasir dalam kesunyian tenang pesisir. Namun
rinai pergi tanpa bicara, tinggalkan sesosok anak manusia akan rindunya pada
angkasa.
Di depan sebuah pintu
besi Tori berdiri, merasakan buaian angin dan tetes-tetes kecil air. Jubah
hitamnya terkibar angin, bergerak dan meronta, melawan tubuhnya yang terasa
kaku. Pupil matanya menangkap cayaha yang terpantul dari sosok itu. Syaraf
otaknya menerjemahkan sosok yang terbaring di dekat pagar pembatas itu.
Kulit pucatnya berkilau
di bawah sinar bulan biru. Rambut pendeknya berwarna abu-abu, pakaiannya berwarna
senada dengan celana hitam pendek. Di sekitarnya bulu-bulu putih berserakan,
dengan warna merah sebagai hiasan. Darah?. Anak-anak
itu, anak ini? Bagaimana bisa hal seperti ini terlewat dari pandanganku? Pikirnya
frustasi. Otaknya sempat menolak apa yang dia lihat, namun berapa kali pun dia
mengerjapkan matanya, tak ada yang berubah. Bocah kecil itu masih bersandar di
sana.
Dengungan singkat terdengar, menandakan Derura
telah menerima pesannya. Bala bantuan akan segera datang. Jantungnya berdegub
lebih kencang. Kenapa?. Entah mengapa,
rasa panik menjalar di tubuhnya. Tori melihat bocah laki-laki yang sekarang
berada tepat di depannya. Haruskah Derura
mengetahui ini? Pikirnya.
Sekarang anak itu telah
berada di atas punggungnya. Tanpa banyak berpikir dia mengeluar sebuah botol
dari saku celananya dan membuka tutupnya. Botol itu mengeluarkan sesuatu yang
tampak seperti cairan berwarna kuning. Volume cairan yang keluar dari botol
coklat itu terus bertambah, bergerak dan menyapu sisa-sisa darah yang ada di
sana.
Pohon-pohon di depannya
terlihat semakin besar dan bercabang, sepertinya ia telah masuk jauh ke dalam
hutan. Dia terus berlari, meskipun ranting-ranting pohon itu cukup
menyulitkannya bergerak dan memberikan dia goresan dimana-mana. Entah apa itu
juga melukai bocah di punggungnya.
Tess...
Suara
titik air yang jatuh terdengar menggema di telinganya. Perlahan kian semarak,
berlomba turun ke tanah yang ia pijak.
Tori hanya bisa terus
berlari. Matanya menjelajah, mencari tempat untuk bersinggah. Gua?. Ya, di sana, di seberang sungai
berbatu terjal yang ada depannya. Dengan sigap dia melompati batu-batu itu,
bergegas sebelum hujan turun semakin deras.
No comments:
Post a Comment