Disclaimer
: Detective Conan is belong to Aoyama Gosho, but Haibara Ai is mine! Just
kidding (T.T)
Warning
: OOC
Chapter
1
Arrgh..
aku masih ingin tidur. Suara ketukan pintu terdengar sayup-sayup, diiringi
suara panggilan atau mungkin teriakan atas namaku. Mata ini tidak kunjung mau
terbuka. Aku masih lelah, kepalaku penat, sungguh.
Suara-suara itu
terdengar kian jelas. Mata beratku sedikit terbuka. Aku meraba meja di samping
kanan tempat tidurku. Kutemukan benda persegi panjang yang kucari. Setelah menekan
salah satu tombolnya, aku menunggu, dalam 10 detik akhirnya aku sadar, aku
tidak akan menemukan jawaban yang kuinginkan dari benda persegi ini. Sial Hpku
mati.
Aku mengalihkan
pandanganku pada pada benda persegi lainnya di kiri atas dinding kamarku. Sepertinya
belum ada cahaya yang menerobos celah ventilasi itu. Hmh baiklah sebentar lagi,
aku masih ingin berbaring, aku akan bangun nanti, sebentar lagi.
Rasanya baru beberapa
detik aku memejamkan mata. Aku merasakan sebuah tangan mengguncang bahuku. Aku
menepis tangan itu. Hening. Apakah ini berarti aku diizinkan tidur lagi?
“Haibaraaa!! Haibara!!
Kau tau? Ini sudah hampir jam 6. Pesawat kita berangkat satu setengah jam lagi.
Kita akan terlambaat!!”
Sepertinya tidak. Teriakan
cempreng yang di alamatkan pada telinga kiriku itu benar-benar berhasil
membuatku terjaga. Badanku otomatis bertolak dari tempat tidur. Aku menoleh pada
sosok anak kecil dengan kacamata yang menghiasi kepala besarnya. Dengan mata
yang masih belum terbuka sepenuhnya aku men-scan
sosok yang berada tepat di samping kananku. Dengan senyum lebar dan mata
berbinar dia menatapku. Tas ambing berwarna abu-abu yang terlihat cukup penuh
telah bertengger manis di pundaknya. Apa dia bercanda? Rasanya aku melihat anak
TK yang penuh semangat tengah bersiap untuk liburan pertamanya.
“15 menit.” Kataku
seraya beranjak dari tempat tidur. Aku berjalan dengan mata nyaris terpejam.
Mengambil handuk, lalu pergi ke kamar mandi.
-----
Mandi memang
menyegarkan, namun rasa kantuk ini masih belum mau beranjak pergi dari mataku.
Aku melihat jam dinding. Pukul 6 lewat 9 menit. Ke bandara butuh waktu 45
menit. Masih sempat.
Aku berjalan pelan dari dapur menuju meja
makan. Aroma kopi hitam yang pekat menyeruak dari mug putih di tanganku. Aku
mendekatkan mug putih itu di antara bibir dan hidungku, menghirup aroma kopi
favoritku. Aku bersiap menyesapnya, tapi tanganku dengan reflek menjauhkan mug
itu setelah setetes kopi menyentuh lidahku. Panas.
Bruuk
...
“Aarhh panas!!” suara
teriakan terdengar tepat di depanku.
Uups.. tampaknya keberuntungan
sedang tidak berpihak pada teman senasibku ini. Berkas-berkas tumpahan kopi
terjejak pada sebagian wajah, leher dan kaos birunya. Mataku mengerjap. Dia
terlihat kepanasan. Tentu saja. tapi, aku tak tau harus berbuat apa.
“Emm..
Sorry.. Kau tak apa kudo-kun? Panaskah?” Aku bertanya, panik, khawatir,
sungguh.
“Kau
masih ingin mengejekku setelah menyiramkan kopi panas padaku?” Tanyanya dengan nada sedikit sarkastis seraya
mengibas-ngibaskan bajunya yang terkena tumpahan kopi.
Mengejek?
Begitukah menurutmu?. Aku menggeser arah pandangku. Di arah jam dua, di atas
meja yang mungkin berjarak 1 meter dariku, ada cermin di sana. Wajah gadis
kecil kecil berumur 9 tahun terukir jelas, rambut coklat pirangnya terurai
sedikit melebihi bahu. Manik birunya menatapku dengan ekspresi yang entah harus
kusebut apa. Kosong. Menyebalkan?. Itu aku. Tapi... ahh entahlah.
“Maafkan
aku tuan detektif yang terhormat, aku tidak sengaja.” Balasku sarkastis.
Biarlah, toh memang aku bukan anak baik sejak awal.
“Mengomel
tidak akan merubah keadaan. Cepatlah ganti bajumu atau kita akan terlambat.”
Tambahku seraya berjalan melewatinya menuju ruang keluarga. Haha, mulutnya
berkomat-kamit, tampaknya dia kesal. Bukankah wajah kesalnya itu terlihat imut
dan manis?. Apa?! Tidak.. tidak. Emm.. itu.. lucu saja jika kau membayangkan
remaja berusia 19 tahun merengut seperti itu. Mungkin 2 tahun terperangkap
dalam tubuh anak kecil telah membangkitkan sisi kekanak-kanakannya kembali.
Ehm.. lupakan.
-----
“Kau
lihat. Kita sampai tepat waktu, bukan? Kataku seraya memasang sabuk pengaman.
“Yah
tepat. Tepat sebelum tangga pesawat ditutup.”
Jawabnya sinis tanpa menoleh ke arahku. Sepertinya dia masih marah.
Emm.. yahh.. kuakui ini memang kesalahanku. Sedikit.
Sepertinya
aku cukup banyak membuat kekacauan pagi ini. Yahh kau tau, selain memyiramkan
kopi panas padanya, haha, aku juga meninggalkan tiket pesawatku di kamarku, dan
aku baru mengingatnya setelah setengah jalan menuju bandara. Alhasil kami harus
kebut-kebutan mengejar waktu di jalan raya. Aku masih bisa merasakan napasku
yang tersengal karna berlari.
Kupikir
ini ada hubungannya dengan perasaan yang menghantuiku sejak satu minggu yang
lalu. Aku tak mengerti apa yang kurasakan. Entah apa dan entah mengapa yang membuatku
merasa berat. Perasaan yang aku tahu, tapi aku tidak tahu. Haha, bodoh.
Hari ini kami akan berangkat
menuju pulau Hashima yang berada di prefektur Nagasaki. Kemarin malam, kami
baru menemukan kemungkinan bahwa masih ada tempat rahasia Black Organitation yang belum ditemukan setelah penghancuran
organisasi itu oleh kami dan FBI sebulan yang lalu. Organisasi yang selalu
menghantui hidupku kini telah hilang, telah musnah. Mungkin. Masih ada perasaan
tak terjelaskan yang menghantui pikiranku. Mungkin aku hanya belum siap. Siap?
Entahlah.
Aku bersandar pada kursi pesawat berwarna biru yang
kududuki. Melihat ke arah jendela yang membatasiku dengan langit biru. Mencoba
menghilangkan rasa resah dan gundahku.
Tujuan kami ke pulau
Hashima bukan untuk mencari sisa-sisa jejak dari Organisasi Hitam. Masa kelamku
dengan organisasi itu telah berakhir. Setidaknya itu yang harus aku percaya.
Sekarang, kami kesana untuk mencari kepingan yang mungkin ada untuk
mengembalikan kehidupannya. Yaa dia. Seseorang yang dalam sosok anak kecilnya
sedang tertidur pulas di sampingku.
....
No comments:
Post a Comment