Saturday, May 24, 2014

Bias

Chapter 1 : Bulan Biru

Iris birunya menatap rembulan,
Berharap rasa sakit berhenti untuk datang,
Seiring dengan hembusan napas yang kian memelan,
Berharap cahaya redup berganti menjadi sinar benderang.

            Waktu terus berjalan, sang surya telah hilang ditelan kegelapan. Tampak wajah-wajah tegang berlindung di balik pohon dan semak belukar. Dalam diam mereka mengamati setiap pergerakan di sekitar mereka, terutama sebuah gedung tua yang tak jauh sana.  Gedung itu tidak terlalu besar, dindingnya tampak retak, catnya sudah mengelupas, hanya sulur dan lumut hijau yang terlihat dominan pada dekorasi dinding gedung tua itu.
Di sisi barat gedung, seseorang mengawasi mereka dengan teropong di tangannya. Laki-laki berjubah hitam itu bergelut dengan pikirannya. Sudah lewat hampir satu jam dari rencana awal, tapi tim yang diawasinya masih belum memberikan tanda pergerakan. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya pada pohon di sisi kirinya, menunggu, tidak sabar. Dari tepi tebing dia dapat melihat gedung tua itu, dengan pohon-pohon dan semak belukar di sekitarnya. Dia juga masih bisa melihat beberapa orang anak yang memang sedang bertugas menjaga keadaan luar gedung menyembunyikan diri mereka dibalik pohon.. ‘Sial.. anak-anak itu benar-benar membuang waktu ku saja. Sayang sekali aku tak bisa ikut campur dalam misi mereka.’ Pikirnya seraya mengacak rambut ungunya. Yaah, tugasnya kali ini memang hanya untuk mengawasi ujian calon tim muda yang akan dilantik. Meringkus buronan rank 2 seharusnya tidak perlu memakan waktu selama ini, khususnya untuk tim 8 orang anak ber-grade Alpha.
Satu jam berlalu lagi, kesabaran laki-laki jangkung bernama Tori itu pun mulai habis, menunggu memang bukan keahliannya. Akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri mereka. Dia beranjak dari posisi duduknya sambil berguman kesal. Masih dengan kedua tangan di saku celananya, dia mengambil ancang-ancang untuk melompat. Saat itu juga, tiba-tiba angin bertiup kencang dari arah timur, arah yang akan dia tuju. Sesaat setelah itu, sinar biru terang memancar secara horizontal dari gedung tua yang berjarak setidaknya 300 meter dari tempatnya berpijak. Mata malasnya terbelalak, dia merasakan pancaran energi yang kuat dari cahaya itu. Beberapa detik cukup untuk membuat siapa saja memutuskan bahwa ada yang tidak beres di sana, dengan sigap dia melompat ke dahan pohon besar di bawahnya. Dia melompati dahan pohon-pohon besar itu secepat yang dia bisa.
Perjalanan singkat itu memang tak membuatnya lelah ataupun mengeluarkan tenaga lebih, tapi entah mengapa detak jantungnya sekarang tidak sinkron dengan kerja tubuhnya, rasanya mereka berdetak terlalu cepat. ‘Ada apa ini?’. Sesuatu yang terselip dipikirannya dan membuatnya merasa gusar. Tori menggerakkan rangka lehernya mengikuti arah yang dituju bola matanya. Tak lama, mata besarnya menangkap siluet hitam di balik sebuah pohon besar berdaun lebat. Dengan langkah hati-hati Tori menghampirin siluet itu.
“Revi? Kau kah itu? Hei, kenapa diam saja?” Tori berteriak pada siluet yang dikenalinya sebagai Revi, salah satu anak yang berada pada tim yang dia awasi.
Tori mempercepat langkahnya, namun dia berhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang janggal. Kedua bola mata berwarna hijau pekat itu seperti tengah menatapnya.
“Hei, kau kenapa nak?” Tori menatap Revi seraya menepuk bahunya.
Pandangannya kosong. Dia tak merespon, tapi posisinya masih dalam keadaan terjaga. Tori meletakkan jari tengah dan telunjuk tangan kirinya pada leher Revi. Denyut nadinya normal. Dari posisinya, tampaknya dia tidak sadar kalau sesuatu telah terjadi padanya. Dia terkena ilusi yang cukup dalam, tapi ini tidak berbahaya. ‘Arrgh.. sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa burunan rank 2 melakukan hal semacam ini? Mereka adalah orang-orang yang memakai kekuatan fisik. Sudahlah, saat ini aku harus menghubungi ketua lalu memeriksa anak-anak lain. Aku tak bisa mengatasi ini sendiri.’ Tori mengacak rambutnya seraya bejalan menuju tempat yang agak lapang.
Tori menjentikkan jari tangan kanannya dua kali. Dari jari-jari itu keluar api dengan nyala ungu yang kemudian menjalar memehuni telapak tangannya. Api itu membesar hingga seukuran kepalanya. Kemudian, dia mengucapkan beberapa kalimat sebelum dia melemparkan api ungu itu melesat ke angkasa. Dia mendongakkan kepala, memperhatikan api pesan itu hingga menghilang dari pandangannya. Di atas langit sepertinya ada hal lain yang menarik perhatianya. ‘Tampaknya, purnama malam ini warna birunya lebih pekat dari biasa’.
Tori telah menemukan dua anak lainnya yang bertugas mengintai. Keadaan mereka sama seperti Revi. Setelah memastikan keduanya tidak mengalami cedera, Tori memindahkan mereka termasuk Revi ke tempat yang agak terlindungi, tak lupa dia memberikan selimut cahaya untuk melindungi mereka, berjaga-jaga jikalau masih ada musuh yang berkeliaran di sekitar sini. Yahh, meskipun namanya selimut cahaya, bukan berarti itu merupakan benda bersinar mencolok yang menarik perhatian.
            Tori mengamati keadaan ruangan itu dari sudut ke sudut. Sepertinya hanya ada satu ruang besar ini di lantai pertama. Tori melihat mereka. Lima orang anak itu terlihat mengiring ke enam orang dewasa yang tangan-tangannya diikat ke belakang punggung mereka. Mereka berada di anak tangga di pojok kiri gedung itu. Tampaknya mereka semua juga tidak ada yang menyadari jika sesuatu telah terjadi. Tori terlihat geram. Tidak mengerti mengapa ini semua terjadi tepat di depan matanya. Padahal dia tak pernah melepaskan penjagaan. Dia terus-terusan mengawasi gedung tua ini, meskipun tidak secara seksama. ‘Mengapa aku baru menyadari hal ini? Kalau tim ini melaksanakan tugasnya dengan normal berarti ini sudah terjadi sekitar dua jam yang lalu.’ Dia kembali mengacak rambutnya. Dia memperhatikan keadaan orang-orang di depannya. ‘Sepertinya mereka baik-baik saja. Aku akan memeriksa lantai atas.’ Tori bergegas melompati mereka lalu berlari menapaki tangga yang berbentuk melingkar itu.
            Tori memeriksa tiap ruangan yang dilewatinya, tapi tampaknya tidak ada sesuatu yang mencurigakan di lantai kedua dan ketiga. Sekarang dia bergegas menuju atap gedung bertingkat tiga tersebut. Dengan segera ia membuka gagang pintu yang menuju atap. Hembusan angin sepoi itu menggelitik wajahnya dengan tenang, memberi sedikit kesegaran pada pikiran kusutnya. Namun ia tidak berpikir ketenangan ini merupakan pertanda baik dari alam.
            Bocah itu terbaring di dekat pagar pembatas. Pada wajah pucatnya terlihat darah yang mengalir dari dahinya. Di sekitarnya bulu-bulu putih berlumur darah berserakan. Napasnya sedikit tercekat. Tubuhnya bergerak, bersandar pada pagar pembatas di pinggiran atap. Kelopak matanya terbuka pelan. Dia mendongakkan kepalanya, menatap langit dengan iris birunya. Mengambil sebuah napas panjang seraya memejamkan mata.
. . . . . . . TBC . . . . . .

No comments:

Post a Comment