Chapter 1 : Bulan Biru
Iris
birunya menatap rembulan,
Berharap
rasa sakit berhenti untuk datang,
Seiring
dengan hembusan napas yang kian memelan,
Waktu
terus berjalan, sang surya telah hilang ditelan kegelapan. Tampak wajah-wajah
tegang berlindung di balik pohon dan semak belukar. Dalam diam mereka mengamati
setiap pergerakan di sekitar mereka, terutama sebuah gedung tua yang tak jauh
sana. Gedung itu tidak terlalu besar,
dindingnya tampak retak, catnya sudah mengelupas, hanya sulur dan lumut hijau yang
terlihat dominan pada dekorasi dinding gedung tua itu.
Di sisi barat gedung,
seseorang mengawasi mereka dengan teropong di tangannya. Laki-laki berjubah
hitam itu bergelut dengan pikirannya. Sudah lewat hampir satu jam dari rencana
awal, tapi tim yang diawasinya masih belum memberikan tanda pergerakan. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya pada pohon
di sisi kirinya, menunggu, tidak sabar. Dari tepi tebing dia dapat melihat
gedung tua itu, dengan pohon-pohon dan semak belukar di sekitarnya. Dia juga
masih bisa melihat beberapa orang anak yang memang sedang bertugas menjaga
keadaan luar gedung menyembunyikan diri mereka dibalik pohon.. ‘Sial.. anak-anak itu benar-benar membuang
waktu ku saja. Sayang sekali aku tak bisa ikut campur dalam misi mereka.’
Pikirnya seraya mengacak rambut ungunya. Yaah, tugasnya kali ini memang hanya
untuk mengawasi ujian calon tim muda yang akan dilantik. Meringkus buronan rank 2 seharusnya tidak perlu memakan
waktu selama ini, khususnya untuk tim 8 orang anak ber-grade Alpha.
Satu jam berlalu lagi,
kesabaran laki-laki jangkung bernama Tori itu pun mulai habis, menunggu memang
bukan keahliannya. Akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri mereka. Dia
beranjak dari posisi duduknya sambil berguman kesal. Masih dengan kedua tangan
di saku celananya, dia mengambil ancang-ancang untuk melompat. Saat itu juga,
tiba-tiba angin bertiup kencang dari arah timur, arah yang akan dia tuju.
Sesaat setelah itu, sinar biru terang memancar secara horizontal dari gedung
tua yang berjarak setidaknya 300 meter dari tempatnya berpijak. Mata malasnya
terbelalak, dia merasakan pancaran energi yang kuat dari cahaya itu. Beberapa
detik cukup untuk membuat siapa saja memutuskan bahwa ada yang tidak beres di
sana, dengan sigap dia melompat ke dahan pohon besar di bawahnya. Dia melompati
dahan pohon-pohon besar itu secepat yang dia bisa.
Perjalanan singkat itu
memang tak membuatnya lelah ataupun mengeluarkan tenaga lebih, tapi entah
mengapa detak jantungnya sekarang tidak sinkron dengan kerja tubuhnya, rasanya
mereka berdetak terlalu cepat. ‘Ada apa
ini?’. Sesuatu yang terselip dipikirannya dan membuatnya merasa gusar. Tori
menggerakkan rangka lehernya mengikuti arah yang dituju bola matanya. Tak lama,
mata besarnya menangkap siluet hitam di balik sebuah pohon besar berdaun lebat.
Dengan langkah hati-hati Tori menghampirin siluet itu.
“Revi? Kau kah itu? Hei,
kenapa diam saja?” Tori berteriak pada siluet yang dikenalinya sebagai Revi,
salah satu anak yang berada pada tim yang dia awasi.
Tori mempercepat
langkahnya, namun dia berhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang janggal.
Kedua bola mata berwarna hijau pekat itu seperti tengah menatapnya.
“Hei, kau kenapa nak?”
Tori menatap Revi seraya menepuk bahunya.
Pandangannya kosong. Dia
tak merespon, tapi posisinya masih dalam keadaan terjaga. Tori meletakkan jari
tengah dan telunjuk tangan kirinya pada leher Revi. Denyut nadinya normal. Dari posisinya, tampaknya dia tidak sadar kalau
sesuatu telah terjadi padanya. Dia terkena ilusi yang cukup dalam, tapi ini
tidak berbahaya. ‘Arrgh.. sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa burunan
rank 2 melakukan hal semacam ini? Mereka adalah orang-orang yang memakai
kekuatan fisik. Sudahlah, saat ini aku harus menghubungi ketua lalu memeriksa
anak-anak lain. Aku tak bisa mengatasi ini sendiri.’ Tori mengacak
rambutnya seraya bejalan menuju tempat yang agak lapang.
Tori menjentikkan jari
tangan kanannya dua kali. Dari jari-jari itu keluar api dengan nyala ungu yang
kemudian menjalar memehuni telapak tangannya. Api itu membesar hingga seukuran
kepalanya. Kemudian, dia mengucapkan beberapa kalimat sebelum dia melemparkan
api ungu itu melesat ke angkasa. Dia mendongakkan kepala, memperhatikan api
pesan itu hingga menghilang dari pandangannya. Di atas langit sepertinya ada
hal lain yang menarik perhatianya. ‘Tampaknya,
purnama malam ini warna birunya lebih pekat dari biasa’.
Tori telah menemukan
dua anak lainnya yang bertugas mengintai. Keadaan mereka sama seperti Revi.
Setelah memastikan keduanya tidak mengalami cedera, Tori memindahkan mereka
termasuk Revi ke tempat yang agak terlindungi, tak lupa dia memberikan selimut
cahaya untuk melindungi mereka, berjaga-jaga jikalau masih ada musuh yang
berkeliaran di sekitar sini. Yahh, meskipun namanya selimut cahaya, bukan
berarti itu merupakan benda bersinar mencolok yang menarik perhatian.
Tori
mengamati keadaan ruangan itu dari sudut ke sudut. Sepertinya hanya ada satu
ruang besar ini di lantai pertama. Tori melihat mereka. Lima orang anak itu
terlihat mengiring ke enam orang dewasa yang tangan-tangannya diikat ke
belakang punggung mereka. Mereka berada di anak tangga di pojok kiri gedung itu.
Tampaknya mereka semua juga tidak ada yang menyadari jika sesuatu telah
terjadi. Tori terlihat geram. Tidak mengerti mengapa ini semua terjadi tepat di
depan matanya. Padahal dia tak pernah melepaskan penjagaan. Dia terus-terusan
mengawasi gedung tua ini, meskipun tidak secara seksama. ‘Mengapa aku baru menyadari hal ini? Kalau tim ini melaksanakan
tugasnya dengan normal berarti ini sudah terjadi sekitar dua jam yang lalu.’
Dia kembali mengacak rambutnya. Dia memperhatikan keadaan orang-orang di
depannya. ‘Sepertinya mereka baik-baik
saja. Aku akan memeriksa lantai atas.’ Tori bergegas melompati mereka lalu
berlari menapaki tangga yang berbentuk melingkar itu.
Tori
memeriksa tiap ruangan yang dilewatinya, tapi tampaknya tidak ada sesuatu yang
mencurigakan di lantai kedua dan ketiga. Sekarang dia bergegas menuju atap
gedung bertingkat tiga tersebut. Dengan segera ia membuka gagang pintu yang
menuju atap. Hembusan angin sepoi itu menggelitik wajahnya dengan tenang,
memberi sedikit kesegaran pada pikiran kusutnya. Namun ia tidak berpikir
ketenangan ini merupakan pertanda baik dari alam.
Bocah itu terbaring di dekat pagar pembatas.
Pada wajah pucatnya terlihat darah yang mengalir dari dahinya. Di sekitarnya
bulu-bulu putih berlumur darah berserakan. Napasnya sedikit tercekat. Tubuhnya
bergerak, bersandar pada pagar pembatas di pinggiran atap. Kelopak matanya
terbuka pelan. Dia mendongakkan kepalanya, menatap langit dengan iris birunya. Mengambil
sebuah napas panjang seraya memejamkan mata.
.
. . . . . . TBC . . . . . .
No comments:
Post a Comment