BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam perkecambahan, biji selalu mengalami pertumbuhan dan
mengalami perkembangan. Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume karena adanya
penambahan substansi (bahan dasar) yang bersifat irreversibel (tidak dapat
kembali). Sedangkan, perkembangan adalah proses menuju tercapainya kedewasaan
yang tidak dapat diukur. Pertumbuhan dalam suatu perkecambahan biji dapat
langsung diukur apabila tunasnya sudah keluar dan tumbuh. Sama halnya dengan
pertumbuhan, perkembangan juga dapat dilihat dari tunas/awal, hanya saja tidak
diukur melainkan melihat apa saja struktur tubuh kecambah yang mulai ada dari
awal/tunas. Seperti pada awalnya, berkembang batang, akar, dan sebagainya.
Pertumbuhan dan perkembangan suatu kecambah biji akan selalu berbeda-beda
tergantung media tanam yang dipakai dan unsur-unsur yang terdapat dalam media
tanam tersebut.Media tanam merupakan media/tempat dimana tanaman/biji dapat
tumbuh dan berkembang didalamnya. Contohnya seperti tanah, air, kapas, dan
sejenis lainnya. Saat ini, di kehidupan sehari-hari atau dalam perkebunan,
tanah selalu menjadi media tanam bagi benih yang akan ditanam. Tapi, dalam
kegiatan penelitian, siswa-siswi selalu memakai kapas untuk perkecambahan biji
mereka. Sedangkan, media tanam yang menggunakan air biasanya dikhususkan untuk
tumbuhan hidroponik.Dalam hal ini, dapat terlihat bahwa kegunaan antara berbagai
media tanam itu berbeda-beda. Tidak hanya kegunaannya saja tapi pengaruhnya
terhadap perkecambahan suatu biji. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena
setiap media tanam mengandung unsur-unsur dan struktur yang berbeda-beda.
Adapun beberapa permasalahan yang akan dibahas
dalam laporan ini adalah:
1. Apakah media
agar-agar adalah media yang tebaik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau?
1.3 Tujuan
Penelitiian
1.
Melakukan penelitian pertumbuhan dan
perkembangan tanaman kacang hijau.
2.
Mengetahui
pengaruh berbagai media tanam (tanah,agar-agar,kapas,debu) terhadap kecepatan
pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau.
1.4 Manfaat Penelitian
1.
Mampu memilih media tanam yang sesuai bagi tumbuhan
2.
Mengetahui pengaruh media tanam terhadap laju
pertumbuhan kacang hijau
3.
Mengetahui factor apa saja yang membedakan media
tanam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1
Teori
mengenai Media Tanam
Banyak media
tanam yang bisa dipilih untuk tanaman kita. Meskipun begitu, sebagian besar
kegiatan pertanian dan pertamanan sampai saat ini masih bergantung kepada
tanah. Mahluk-mahluk hidup di dalam tanah membantu memecah materi sisa tumbuhan
dan bangkai hewan menjadi zat hara, yang kemudian diserap oleh akar tumbuhan.
Jarang sekali kegiatan pertanian memakai media kapas, terkecuali para siswa
yang akan melakukan penelitian biologi.
Dalam media tanam
/ tumbuh, tanah memiliki peran yang penting di bidang pertanian maupun
perkebunan. Sebelumnya, dijelaskan terlebih dahulu, sifat fisik tanah dan apa
saja yang terkandung dalam tanah sehingga menyebabkan tanah sering dipakai
sebagai media tanam:
2.1.1.1 Tanah
1. Profil tanah
Jika tanah digali sampai kedalaman tertentu,
dari penampung vertikalnya dapat dilihat gradasi warna yang membentuk
lapisan-lapisan (horison) atau biasa disebut profil tanah. Di tanah hutan yang
dusah matang terdapat tiga horison penting yaitu horison A, B dan C.
a. Horison A atau top soil adalah
lapisan tanah paling atas yang paling sering dan paling mudah dipengaruhi oleh
faktor iklim dan faktor biologis. Pada lapisan ini sebagian besar bahan organik
terkumpul dan mengalami pembusukan.
b. Horison B disebutkan juga
dengan zona penumpukan ( illuvation zone ). Horizon ini memiliki bahan organik
yang lebih sedikit tetapi lebih banyak mengandung unsur yang tercuci daripada
horizon A.
c. Horizon C adalah zona yang terdiri
dari batuan terlapuk yang merupakan bagian dari batuan induk.
2. Warna
tanah
Warna adalah petunjuk untuk beberapa sifat
tanah. Biasanya perbedaan warna permukaan tanah disebabkan oleh perbedaan
kandungan bahan organik. Semakin gelap warna semakin tinggi kandungan bahan organiknya.
Warna tanah dilapisan bawah yang kandungan bahan organik rendah lebih banyak
dipengaruhi oleh jumlah kandungan dan bentuk senyawa besi (Fe). Didaerah yang
mempunyai sistem darinase (serapan air) buruk, warna tanahnya abu-abu karena
ion besi yang terdapat didalam tanah berbentuk Fe 2+
3.
Tekstur tanah
Komponen mineral dalam tanah terdiri
dari campuran partikel-partikel yang secara individu berbeda ukurannya. Menurut
ukuran partikelnya, komponen mineral dalam tanah dapat dibedakan menjadi tiga
yaitu :
- Pasir,
berukuran 50 mikron – 2 mm
- Debu, berukuran 2-50 mikron
- Liat, berukuran dibawah 2 mikron
Tanah bertekstur pasir sangat mudah
diolah, tanah jenis ini memiliki aerasi (ketersediaan rongga udara) dan
drainase yang baik, namun memiliki luas permukaan kumulatif yang relatif kecil,
sehingga kemampuan menyimpan air sangat rendah atau tanahnya lebih cepat
kering.
Tabel 2.1. Perbandingan hara yang
terdapat dalam jenis tekstur tanah
Jenis Tekstur
|
P
|
K
|
Ca
|
Fe2O3
|
MgO
|
Pasir
|
0,08
|
2,53
|
2,92
|
5,19
|
1,02
|
Debu
|
0,10
|
3,44
|
6,58
|
9,42
|
2,22
|
Tekstur tanah sangat berpengaruh pada
proses pemupukan, terutama jika pupuk diberikan lewat tanah, pemupukan pada
tanah bertekstur pasir tentunya berbeda dengan tanah bertekstur lempung atau
liat, tanah bertekstur pasir memerlukan pupuk lebih besar karena unsur hara
yang tersedia pada tanah berpasir lebih rendah. Disamping itu aplikasi
pemupukan juga berbeda karena pada tanah berpasir pupuk tidak bisa diberikan
sekaligus karena akan segera hilang terbawa air atau menguap.
2.1.1.2
Kapas
Kapas memiliki
struktur kapas yang lembut, dan juga memiliki daya serap air yang rendah.
Sehingga, media tanam dengan kapas dapat terjaga kelembabannya, dan juga
memiliki persediaan air dalam jangka waktu yang lama.
Kapas (dari bahasa Hindi kapas, sendirinya
dari bahasa Sanskertakarpasa) adalah serat halus yang
menyelubungi biji beberapa
jenis Gossypium (biasa disebut "pohon"/tanaman kapas), tumbuhan 'semak' yang
berasal dari daerah tropika dan subtropika. Serat kapas
menjadi bahan penting dalam industri tekstil. Serat itu
dapat dipintal menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Produk
tekstil dari serat kapas biasa disebut sebagai katun (benang maupun
kainnya).
Serat kapas
merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar 10% dari berat kotor
(bruto) produk hilang dalam pemrosesan. Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan
lain-lain residu disingkirkan, sisanya adalah polimerselulosa murni dan
alami. Selulosa ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kapas
kekuatan, daya tahan (durabilitas), dan daya serap yang unik namun disukai
orang. Tekstil yang terbuat dari kapas (katun) bersifat menghangatkan di kala
dingin dan menyejukkan di kala panas (menyerap keringat).
Sifat-sifat Kimia Kapas
Oleh karena kapas sebagian besar tersusun atas selulosa
maka sifat-sifat kmia kapas adalah sifat-sifat kimia selulosa.
Serat kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi
penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian yang normal, tetapi beberapa zat
pengoksidasi atau penghidrolisa menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan
kekuatan. Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksi selulosa biasanya
terjadi dalam proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan
lembab, atau pemanasan yang lama dalam suhu diatas 1400C.
Asam-asam menyebabkan hidrolisa ikatan-ikatan glukosa,
dalam rental selulosa membentuk hidroselulosa. Asam kuat dalam larutan
menyebabkan degradasi yang cepat, sedangkan larutan yang encer apabila
dibiarkan mongering pada serat akan menyebabkan penurunan kekuatan. Alkali
mempunyai sedikit pengaruh pada kapas, kecuali larutan alkali kuat dengan
konsentrasi yang tinggi menyebabkan penggelembungan yang besar pada serat,
seperti dalam proses mempercerisasi. Dalam proses ini kapas dikerjakan di dalam
larutan natrium hidroksida dengan konsentrasi lebih besar dari 18%.
Dalam kondisi ini dinding primer menahan penggelumbungan
serat kapas keluar, sehingga lumenya sebagian tertutup. Irisan lintang menjadi
lebih bulat, puntirannya berkurang dan serat menjadi lebih berkilau. Hal ini
merupakan alasan uitama mengapa dilakukan proses mencerisasi. Disamping itu
serat kapas menjadi lebih kuat dan afinitas terhadap zat warna lebih besar.
Pelarut-pelarut yang biasa dipergunakan untuk kapas
adalah kupramonium hidroksida dan kuprietilena diamina. Viskositas larutan
kapas dalam pelarut-pelarut ini merupakan faktor yang baik untuk memperkirakan
kerusakan serat. Kapas mudah diserang oleh jamur dan bakteri, terutama pada
keadaan lembab dan pada suhu yang hangat.
Akhir-akhir ini banyak dilakukan modifikasi secara ilmiah
mempergunakan zat-zat kimia tertentu untuk memperbaiki sifat-sifat kapas,
misalnya stabilitas dimensi, tahan kusut, tahan air, tahan api, tahan jamur,
tahan kotoran dan sebagainya.
2.1.1.3
Agar-Agar
Agar-agar, agar atau agarosa
adalah zat yang biasanya berupa gel yang diolah dari rumput laut atau alga. Di (Jepang) dikenal dengan nama kanten
dan oleh orang Sunda disebut lengkong. Jenis rumput
laut yang biasa diolah untuk keperluan ini adalah Eucheuma spinosum (Rhodophycophyta). Beberapa jenis rumput laut dari
golongan Phaeophycophyta (Gracilaria dan Gelidium)
juga dapat dipakai sebagai sumber agar-agar. Agar-agar dieksport dari Melaka
sejak 1871.[1]
Struktur dan karakteristik : Agar-agar sebenarnya adalah karbohidrat dengan berat molekul tinggi yang
mengisi dinding
sel rumput laut. Ia
tergolong kelompok pektin dan merupakan suatu polimer yang tersusun dari monomer galaktosa. Agar-agar dapat dibentuk sebagai bubuk dan diperjualbelikan.
Gel terbentuk
karena pada saat dipanaskan di air, molekul agar-agar dan air bergerak bebas.
Ketika didinginkan, molekul-molekul agar-agar mulai saling merapat, memadat dan
membentuk kisi-kisi yang mengurung molekul-molekul air, sehingga terbentuk
sistem koloid padat—cair. Kisi-kisi ini
dimanfaatkan dalam elektroforesis gel agarosa untuk menghambat pergerakan molekul obyek
akibat perbedaan tegangan antara dua kutub. Kepadatan gel agar-agar juga cukup
kuat untuk menyangga tumbuhan kecil sehingga sangat sering dipakai sebagai
media dalam kultur jaringan.
Histeresis : Histeresis adalah gejala yang dimiliki oleh
agar-agar dan sejumlah bahan gel lainnya, yang berhubungan dengan suhu transisi
fase padat-cair. Agar-agar mulai mencair pada suhu 85 °C dan mulai memadat
pada suhu 32-40 °C. Jadi tidak seperti air yang memadat dan mencair pada
titik suhu yang sama.
Kegunaan : Apabila dilarutkan dalam air panas dan
didinginkan, agar-agar bersifat seperti gelatin: padatan lunak dengan banyak
pori-pori di dalamnya sehingga bertekstur 'kenyal'. Sifat ini menarik secara
inderawi sehingga banyak olahan makanan melibatkan agar-agar: pengental sup,
puding (jelly), campuran es krim, anmitsu (di Jepang),
Agar-agar dikenal
luas di daerah Asia Tropika sebagai makanan sehat karena mengandung serat (fiber) lunak yang tinggi dan
kalori yang rendah. Kandungan serat lunak yang tinggi membantu melancarkan
pembuangan sisa-sisa makanan di usus (laksatif).
Selain digunakan
sebagai makanan, agar-agar juga digunakan secara luas di laboratorium sebagai pemadat kemikalia dalam
percobaan, media tumbuh untuk kultur jaringan tumbuhan dan biakan mikroba, dan juga sebagai fase diam dalam elektroforesis gel. Di laboratorium, agar-agar (biasanya dikemas
dalam bentuk bubuk) dikenal sebagai agar atau agarosa saja.
Media
tanam jelly yang kami pakai terbuat dari agar-agar, dan diolah sedemikian rupa
sehingga berbentuk padat, dan jika direndam air jelly ini akan menyerap air dan
mengembang.
2.1.2Kajian dan Hasil Penelitian
Setiap media tanam selalu memiliki daya
intermolekul (tenaga listrik pada molekul-molekul media tumbuh) yang
berbeda-beda. Apabila, molekul-molekulnya rapat maka air akan sulit diresap
oleh biji tersebut. Sedangkan, apabila molekul-molekulnya renggang maka air
akan mudah diresap oleh biji tersebut. Jadi, daya intermolekul itu berbanding
terbalik dengan kecepatan penyerapan air. Sehingga, perkecambahan dapat
terpengaruh oleh daya intermolekul suatu media tanam.
Selanjutnya, setiap media tanam selalu memiliki tekstur yang
berbeda-beda. Apabila, media tanam tersebut bertekstur pasir maka media itu
mudah untuk diolah, media jenis ini memiliki aerasi (ketersediaan rongga udara)
dan drainase yang baik, namun memiliki luas permukaan komulatif yang relatif
kecil, sehingga kemampuan menyimpan air sangat rendah dan media tersebut lebih
cepat kering. Yang kemudian, kecambah biji akan sulit bertumbuh karena
kekurangan air.
Tidak hanya tekstur dan daya intermolekul yang dapat mempengaruhi
perkecambahan, tetapi juga kandungan-kandungan unsur yang ada dalam media tanam
tersebut. Kandungan unsur-unsur itu ada yang dapat mempercepat pertumbuhan dan
juga memperhambat pertumbuhan. Tapi, kebanyakan unsur-unsurnya dapat membantu
biji dalam perkecambahan.
2.1.3 Hipotesis
:
Media
tanam yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang hijau
adalah agar-agar.
BAB
III
BAHAN
DAN METODE PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
Alat :
1.
Tempat media tanam
2.
Alat untuk
menyiram tanaman
3.
Penggaris
4.
Lidi yang sudah
diberi ukuran
5.
Alat tulis
6.
Stopwatch
Bahan :
1.
40 Biji kacang
hijau (@10biji)
2.
Kapas 94,5 cm³
3.
Agar-agar 94,5
cm³
4.
Jelly 94,5 cm³
5.
Tanah 94,5 cm³
3.2 Langkah Kerja
1.
Menyiapkan
alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan.
2.
Memasukkan tanah,
agar-agar, jelly, dan kapas ke dalam media tanam dengan jumlah yang sama.
3.
Menanam 10biji
kacang hijau ke dalam masing-masing media tanam.
4.
Mengamati perkecambahan
biji dengan interval 48 jam atau 2 hari sekali.
5.
Mencatat hasil
pengamatan ke dalam tabel pengamatan.
6.
Menganalisis
hasil penelitan dengan cara mengolah data.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Variabel
Variabel dan Definisi Operasional Variabel
Variabel merupakan faktor yang
berpengaruh dan memiliki nilai (ukuran tertentu) serta dapat berubah atau
diubah. Oleh karena itu, variabel sering diebut faktor ubah atau faktor
penentu. Variabel yang dilibatkan dalam penelitian ini ada 3 macam, yaitu
sebagai berikut
- Variabel bebas:
Media tanam untuk perkecambahan biji
Kacang Hijau
- Variabel kontrol:
Jenis biji Kacang Hijau, air untuk
penyiraman, volume air, tempat untuk media tanam beserta kecambah
- Variabel terikat / respon:
Kecepatan
pertumbuhan batang dan jumlah daun pada tumbuhan kacang hijau.
4.2
Pengujian Hipotesis
Penelitian mengenai pengaruh media
tanam terhadap suatu perkecambahan ini, dapat diketahui bahwa daya intermolekul
dan tekstur setiap media tanam berbeda. Hal itulah yang membuat pengaruh
terhadap perkecambahan. Jadi, rumusan hipotesis diterima karena sesuai dengan
hasil penelitian.
Hipotesis mengatakan bahwa berbagai
media tanam dapat berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan biji kacang
hijau. Dalam menguji hipotesis, kita bisa melakukan pengamatan terhadap media
tanam yang dipakai beberapa orang. Contoh, siswa dan insinyur pertanian.
Kebanyakan siswa memilih kapas sebagai media tanam untuk penelitian
kecambahnya. Sedangkan insinyur pertanian kebanyakan memeran pentingkan tanah
dalam pertaniannya. Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan antara media
tanah dan kapas yang kemudian mempengaruhi suatu perkecambahan, sehingga
hipotesis ini dapat berlaku di kemudian hari.
4.3
Data
Pengamatan Panjang Batang Kacang Hijau
Hasil pengamatan dari percobaan yang telah
dilakukan selama 8 hari dengan media tanam yang berbeda yaitu:
Tabel 4.3.1. pot
A (Kapas)
No.
|
Kecambah
ke
|
Hari Pengamatan ke
|
||||
2
|
4
|
6
|
8
|
|||
1
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
2
|
2
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
3
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
4
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
5
|
5
|
-
|
12.5
|
17
|
25
|
|
6
|
6
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
7
|
7
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
8
|
8
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
9
|
9
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
10
|
10
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Rata-rata
|
-
|
1.25
|
1,7
|
2,5
|
||
Tabel 4.3.2 pot B (Agar-agar)
No.
|
Kecambah
ke
|
Hari Pengamatan ke
|
||||||
2
|
4
|
6
|
8
|
|||||
1
|
1
|
-
|
20
|
27
|
32
|
|||
2
|
2
|
0.1
|
4.5
|
12
|
30
|
|||
3
|
3
|
-
|
20
|
25.2
|
29
|
|||
4
|
4
|
-
|
19
|
17
|
21
|
|||
5
|
5
|
-
|
22
|
27.4
|
26
|
|||
6
|
6
|
-
|
-
|
-
|
0.5
|
|||
7
|
7
|
-
|
12
|
19
|
23.5
|
|||
8
|
8
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|||
9
|
9
|
0,1
|
19
|
25
|
26.7
|
|||
10
|
10
|
-
|
18
|
23
|
30
|
|||
Rata-rata
|
0,02
|
13,45
|
17,56
|
21,87
|
||||
Tabel 4.3.3 pot C (Tanah)
No.
|
Kecambah
ke
|
Hari Pengamatan ke
|
||||
2
|
4
|
6
|
8
|
|||
1
|
1
|
0.1
|
11.5
|
15
|
21
|
|
2
|
2
|
-
|
-
|
0.3
|
0.4
|
|
3
|
3
|
-
|
1
|
1
|
1.7
|
|
4
|
4
|
-
|
-
|
-
|
0.2
|
|
5
|
5
|
0.2
|
10
|
21
|
27
|
|
6
|
6
|
-
|
8
|
17
|
0.5
|
|
7
|
7
|
0.1
|
1
|
0.7
|
29
|
|
8
|
8
|
0.1
|
20
|
24.2
|
31
|
|
9
|
9
|
0.1
|
0.5
|
1.5
|
4.5
|
|
10
|
10
|
-
|
-
|
0.1
|
0.2
|
|
Rata-rata
|
0,06
|
5,1
|
8,08
|
11,55
|
||
Tabel 4.3.4 pot D (Jelly)
No.
|
Kecambah
ke
|
Hari Pengamatan ke
|
|||||
2
|
4
|
6
|
8
|
||||
1
|
1
|
-
|
0.3
|
0.4
|
0.6
|
||
2
|
2
|
-
|
0.3
|
0.4
|
0.5
|
||
3
|
3
|
-
|
0.2
|
0.1
|
0.2
|
||
4
|
4
|
-
|
0.3
|
0.4
|
0.5
|
||
5
|
5
|
-
|
0.2
|
0.2
|
0.3
|
||
6
|
6
|
0.1
|
0.2
|
0.2
|
0.3
|
||
7
|
7
|
-
|
0.1
|
0.1
|
0.2
|
||
8
|
8
|
0.2
|
0.2
|
0.4
|
0.5
|
||
9
|
9
|
0.1
|
0.1
|
0.5
|
0.7
|
||
10
|
10
|
-
|
-
|
0.1
|
0.3
|
||
Rata-rata
|
0,04
|
0,19
|
0,28
|
0,41
|
|||
4.4
Pembahasan
Media tanam
yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam.
Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembaban daerah sekitar akar,
menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.
Pada jenis
tumbuhan tertentu seperti kacang hijau juga terdapat beberapa faktor penunjang
dan pada laporan kami ini membahas salah satunya yaitu media tanam dan unsur
hara yang terkandung didalamnya. Melalui kedua faktor tersebut kita dapat
mengetahui skala pertumbuhan dari kacang hijau tersebut hingga menjadi kecambah
akibat pengaruh dari kedua faktor tersebut.
Tumbuhan kacang
hijau yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan paling cepat terdapat dalam
medium agar-agar. Akar, batang, dan daunnya paling panjang diantara yang
lainnya. Kondisi di atas berbanding terbalik dengan kondisi tanaman kacang
hijau yang terdapat dalam kapas. Pada hari pertama pengukuran tanaman kacang
hijau yang terdapat dalam kapas memang jauh lebih pendek daripada tanaman
kacang hijau yang terdapat dalam medium agar-agar.
Pada media
tanam kapas, di hari kedua( pengamatan pertama) belum ada biji kacang hijau
yang mengalami perkecambahan. pada pengmatan selanjutnya, dari hari keempat
(pengamatan kedua) hingga hari kedelapan (pengamatan keempat) hanya kecambah
yang kelima yang menampakkan pertumbuhannya. Dan rata-rata pertumbuhan batang
kecambah kacang hijau hingga pengamatan terakhir adalah sebesar 6,25cm. Mungkin ini disebabkan oleh serat kapas pada umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan, dan
pemakaian yang normal, tetapi beberapa zat pengoksidasi atau penghidrolisa
menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan kekuatan. Kerusakan karena
oksidasi dengan terbentuknya oksi selulosa biasanya terjadi dalam proses
pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab, atau pemanasan yang
lama dalam suhu diatas 1400C .
Pada media
tanam agar-agar, dihari kedua (pengamatan pertama) hanya biji kecambah yang
pertama dan yang kesembilan yang menunjukkan adanya pertumbuhan dengan ukuran
batang 0,1cm. Pada hari keempat(pengamatan kedua), hampir semua biji kacang
hijau mengalami pertumbuhan yang pesat,kecuali pada kecambah yang keenam dan
kedelapan. Dan setelah kami rata-ratakan sampai hari terakhir, kecambah pertama
memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 8cm, kecambah kedua memiliki rata-rata
tinggi batang sebesar 7,5cm. Pada kecambah ketiga memiliki rata-rata tinggi
sebesar 7,25cm. Pada kecambah keempat memiliki rata-rata tinggi sebesar 5,25cm.
Pada kecambah kelima memiliki rata-rata tinggi sebesar 6,5cm. Pada kecambah
keenam memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,125cm. Pada kecambah ketujuh
memiliki rata-rata tinggi sebesar 5,87cm. Pada kecambah kesembilan memiliki
rata-rata tinggi sebesar 6,675cm. Pada kecambah kesepuluh memiliki rata-rata
tinggi sebesar 7,5cm.
Pada media
tanam tanah, dihari kedua (pengamatan pertama) ada setengah dari keseluruhan
biji kecambah tumbuh. Dan pada pengamatan selanjutnya, setelah di rata-ratakan
dari pengamatan pertama hingga akhir. Pada kecambah pertama memiliki rata-rata
tinggi batang sebesar 5,25 cm, kecambah kedua memiliki rata-rata tinggi batang
sebesar 0,1cm. Pada kecambah ketiga memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,425cm.
Pada kecambah keempat memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,05cm. Pada kecambah
kelima memiliki rata-rata tinggi sebesar 6,75cm. Pada kecambah keenam memiliki
rata-rata tinggi sebesar 0,125cm. Pada kecambah ketujuh memiliki rata-rata
tinggi sebesar 7,25cm. Pada kecambah kedelapan memiliki rata-rata tinggi batang
sebesar 7,75cm. Pada kecambah kesembilan memiliki rata-rata tinggi batang
sebesar memiliki rata-rata tinggi sebesar 1,125cm. Pada kecambah kesepuluh
memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,05cm.
Pada media
tanam jelly, dihari kedua (pengamatan pertama) ada 3 dari keseluruhan biji
kacang hijau yang tumbuh. Dan pada pengamatan selanjutnya, setelah di
rata-ratakan dari pengamatan pertama hingga akhir. Pada kecambah pertama
memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 0.15 cm.Pada kecambah kedua memiliki
rata-rata tinggi batang sebesar 0,125cm. Pada kecambah ketiga memiliki
rata-rata tinggi sebesar 0,05cm. Pada kecambah keempat memiliki rata-rata
tinggi sebesar 0,125cm. Pada kecambah kelima memiliki rata-rata tinggi sebesar
0,075cm. Pada kecambah keenam memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,075cm. Pada
kecambah ketujuh memiliki rata-rata tinggi sebesar 0,05cm. Pada kecambah
kedelapan memiliki rata-rata tinggi batang sebesar 0,125cm. Pada kecambah
kesembilan memiliki rata-rata tinggi batang sebesar memiliki rata-rata tinggi
sebesar 0,175cm. Pada kecambah kesepuluh memiliki rata-rata tinggi sebesar
0,075cm.
Dari
pengamatan yang telah dilakukan, dapat kita lihat bahwa laju pertumbuhan dan
perkembangan kacang hijau tercepat yaitu pada media agar-agar, diikuti tanah
kemudian jelly dan skala laju pertumbuhan dan perkembangan terkecil pada media
tanam kapas karena mengalami masa dormasi yang terlalu lama.
Media agar-agar
mengandung karbohidrat dengan berat molekul panjang yang mengisi dinding sel
rumput laut. Ia tergolong kelompok pektin dan merupakan suatu polomer yang
tersusun dari monomer galaktosa yang membantu pertumbuhan kecambah.
Media tanah
keunggulannya adalah tanah mengandung unsur hara.
Media kapas,
kapas memiliki molekul-molekul yang renggang sehingga biji kacang hijau dapat
menyerap air dengan mudah, tetapi di karenakan kapas yang peneliti gunakan
merupakan kapas yang teksturnya berserat, dan karena mungkin ada kerusakan pada
tekstur kapas atau kapas telah terkontaminasi oleh zat-zat yang dapat
menghambat pertumbuhan kacang hijau. Pada media kapas, kecambah hanya dapat
menyerap air, sedangkan pada media lainnya kecambah hanya dapat menyerap air
dan zat hara.
Media tanam
jelly yang kami pakai terbuat dari agar-agar, dan diolah sedemikian rupa
sehingga berbentuk padat, dan jika direndam air jelly ini akan menyerap air dan
mengembang. Mungkin inilah alasan mengapa kecambah pada media jelly tumbuh
lambat sekali dibanding media tanam lain kecuali kapas. Karna air yang
diperlukan biji kacang hijau diserap oleh jelly.
Namun
dikarenakan media agar-agar memilki tekstur yang lembut dan mengandung gizi
yang lebih banyak dibandingkan media lainnya pada proses imbisi kecambah kacang
hijau pada media agar-agar dapat tumbuh dengan pesat karena dapat menyerap air
dan gizi sekaligus lebih mudah dan lebih banyak dibandingkan dengan media
lainnya.
Setiap media
yang berbeda pasti selalu memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap suatu
perkecambahan. Karena, setiap media tanam pasti memiliki daya intermolekul,
tekstur, unsur, dan yang lainnya berbeda-beda.
Ada
hal lain yang dapat kami amati dari percobaan ini yaitu kondisi kecambah yang
kami tanam tumbuh tinggi tetapi tidak tumbuh dengan tegak. Hal ini dikarenakan
tempat media tanam yang kami gunakan terlalu sempit dan rendah sehingga
kecambah kacang hijau tumbuh tidak sempurna. Selain itu, kurangnya penyinaran
sinar matahari membuat kecambah kami tumbuh tidak tegak dan pucat.
4.5
Analisis Data
Analisis data adalah cara mengolah
data hasil penelitian sehingga membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
Pada penelitian ini, analisis data yang dapat dilakukan adalah:
1.
Mencari
nilai rata-rata kecepatan perkecambahan biji Kacang Hijau pada tiap perlakuan
2.
Membandingkan
hasil antara kecepatan perkecambahan biji kacang pada media satu dan media yang
lain.
Setiap pot memiliki
populasi 10 biji kacang hijau. Pengambilan data tinggi tanaman dilakukan setiap
hari selama 8 hari untuk masing-masing pot.
Adapun cara kami
menganalisis adalah dengan membandingkan pertumbuhan panjang batang kecambah
setaip batangnya.
Berikut adalah hasil
rata-rata pertumbuhan panjang kacang hijau setelah dilakukan penelitian selama
8 hari:
Grafik
4.5.1 pertumbuhan kacang hijau
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
Agar-agar
adalah media tanam terbaik untuk perkecambahan kacang hijau
5.2.
Saran
Untuk
para masyarakat yang ingin menanam kacang hijau atau sesuatu yang melalui
proses perkecambahan untuk mendapatkn hasil yang terbaik kami sarankan untuk
menggunakan agar-agar.
DAFTAR PUSTAKA
http://renirahmawatii.blogspot.com/2012/01/makalah-biologi-umum.html
http://hasil-penelitian-pengaruh-media-tanah.html
http://Agar-agar.htm
http://Pengaruh
Berbagai Media Tanam Terhadap Kecepatan Perkecambahan Biji Kacang Hijau «
Ghoziyah's Blog.htm
http://Pengaruh
Media Tanam terhadap Perkembangan Tumbuhan _ byulovers.htm
http://smk3ae.wordpress.com/2008/08/25/mengenal-serat-kapas-cotton-fibre
No comments:
Post a Comment