Sosis atau sausage berasal
dari bahasa Latin yaitu salsus yang berarti menggiling dengan
garam. Sesuai dengan namanya, sosis merupakan produk olahan daging yang
digiling. Pada zaman dahulu, sosis dibuat dengan cara sederhana yaitu daging
digiling, dihaluskan, dicampur bumbu kemudian diaduk dengan lemak hingga tercampur
rata dan dimasukkan ke dalam selongsong. Selongsong yang dipakai pun masih
alami yaitu usus hewan seperti usus sapi atau kambing.
Sosis fermentasi
merupakan produk sosis yang berasal dari hasil kerja bakteri pembentuk asam
laktat, baik yang terdapat dalam daging secara alami, maupun bakteri starter
yang ditambahkan.
Sosis fermentasi dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu sosis kering (dry sausage) dan sosis semi kering (semi dry sausage). Kultur starter yang digunakan pada pembuatan sosis semi kering adalah Pediococcus acidilactici, sedangkan pada sosis kering adalah Lactobacillus atau Pediococcusatau campuran Micrococcus dan Lactobacillus.
Sosis fermentasi dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu sosis kering (dry sausage) dan sosis semi kering (semi dry sausage). Kultur starter yang digunakan pada pembuatan sosis semi kering adalah Pediococcus acidilactici, sedangkan pada sosis kering adalah Lactobacillus atau Pediococcusatau campuran Micrococcus dan Lactobacillus.
Salami merupakan salah
satu contoh sosis fermentasi (dry sausage) yang mempunyai karakteristik
khusus dengan melibatkan bakteri asam laktat, dengan waktu fermentasi selama 3
bulan, biasanya dikemas dengan diameter yang agak besar dan bentuk adonannya
kasar, serta mempunyai flavor tertentu. Salami adalah sosis tradisional ala
Italia. Salami biasanya terbuat dari daging cincang, lemak hewan, ternak dan
rempah, serta bahan-bahan lain yang ditambahkan bakteri asam laktat dan melalui
proses pengasapan. Jenis salami
yang terdapat di pasar antara lain, Lola, B. C. Salami, milano, dan lain-lain.
yang terdapat di pasar antara lain, Lola, B. C. Salami, milano, dan lain-lain.
Proses Pembuatan Sosis
Fermentasi
Bahan utama yang
digunakan pada pembuatan sosis fermentasi yaitu daging. Selain itu, terdapat
bahan-bahan khusus yang ditambahkan antara lain garam, nitrit, gula,
rempah-rempah (merica, bawang putih, lada), dan starter. Pada pembuatan sosis
fermentasi digunakan casing atau selongsong yang berfungsi
sebagai cetakan.
1. Daging
Daging merupakan
sumber protein berkualitas tinggi, mengandung vitamin B dan mineral, khususnya
besi. Secara umum dapat dikatakan bahwa daging terdiri dari air dan bahan-
bahan padat. Bahan padat daging terdiri dari bahan – bahan yang mengandung
nitrogen, mineral, garam dan abu. Kurang lebih 20% dari semua bahan padat dalam
daging adalah protein. Bagian potongan daging yang dapat digunakan sebagai
bahan baku sosis adalah potongan daging seperti beef short ribs, chuck,
dan round pork shoulder. Karakteristik daging yang digunakan adalah yang
memiliki daya mengikat air.
1. Garam
Garam yang digunakan
dalam pembuatan produk sosis adalah jenis garam dapur (NaCl), garam tidak hanya
berfungsi sebagai pembentuk flavor, namun juga berpengaruh dalam pembentukan
karakteristik fisik dan adonan. Garam mempunyai peran yang cukup menentukan
yaitu memberikan kelezatan produk, mempertahankan flavor dari bahan-bahan yang
digunakan, serta berfungsi sebagai pengikat adonan sehingga mengurangi
kelengketan. Selain itu, garam juga dapat membantu mencegah berkembangnya
mikroba yang ada dalam adonan. Komposisi garam dalam sosis berkisar 1-3%.
1. Nitrit
Nitrat merupakan
sumber nitrit. Nitrat akan diubah menjadi nitrit kemudian diubah menjadi NO
melalui reduksi. Reduksi terjaid karena adanya aktivitas mikrobia. Fungsi dari
nitrit adalah menstabilkan warna dari jaringan untuk mengkontribusi karakter
dari daging curing untuk menghambat pertumbuhan dari racun makanan dan
mikroorganisme pembusuk, menghambat ketengikan, memberi flavor spesifik, efektif
mencengah pertumbuhan Clostridium botulinum. Jumlah nitrat/nitrit maksimal 200
ppm pada produk akhir.
1. Gula
Penambahan gula
terutama sukrosa dan glukosa selain sebagai substrat fermentasi untuk
pertumbuhan bakteri asam laktat, juga berperan dalam pembentukan cita rasa dan
tekstur sosis fermentasi. Gula sebagai bahan pengawet berfungsi sebagai nutrisi
untuk pertumbuhan bakteri asam laktat yang akan memulai proses fermentasi. Gula
yang ditambahkan akan difermentasi menjadi asam laktat oleh bakteri asam laktat
dan menghasilkan flavor yang tajam. Gula yang ditambahkan secara tepat dapat
mengaktifkan proses fermentasi dan mempercepat penurunan pH.
1. Rempah-Rempah
Biji merica digunakan
sebagai bumbu pemberi rasa dan aroma, karena rempah-rempah dapat menyamarkan
makanan dengan penutup rasa makanan yang kurang enak. Selain itu juga berfungsi
sebagai pengawet. Bawang putih merupakan bumbu yang sangat khas dalam pembuatan
sosis fermentasi. Bawang putih mengandung antioksidan yang kuat dan dapat
memperpanjang daya tahan sosis. Bawang putih dapat dipakai sebagai pengawet
karena bersifat bakteriostatik. Lada biasanya digunakan pada semua tipe sosis
fermentasi sebanyak 0,2-0,3% dan berfungsi untuk menghambat pertumbuhan Listeria
monocytogenes.
1. Kultur Starter
Mikroorganisme yang
digunakan sebagai kultur starter pada umumnya dibagi menjadi dua grup, yaitu
kelompok bakteri asam laktat, peran utamanya adalah bertanggung jawab terhadap
proses asidifikasi dan kelompok mikroorganisme pembentuk flavor sering mampu mereduksi
nitrat. Kelompok pertama terdiri atasLactobacillus dan Pediococcus,
yang kedua adalah kelompok Microccaceae, kapang.
Bakteri asam laktat
yang digunakan sebagai kultur starter harus dapat memenuhi kriteria yaitu: 1)
mampu bersaing dengan mikroorganisme lain, 2) memproduksi asam laktat secara
cepat, 3) mampu tumbuh pada konsentrasi garam kurang dari 6%, 4) mampu bereaksi
dengan dengan konsentrasi kurang dari 100 mg/kg, 5) mampu tumbuh pada
suhu antara 15-40˚C, 6) termasuk bakteri homofermentatif, 7) tidak menghasilkan
peroksida dalam jumlah besar, 8) dapat mereduksi nitrit dan nitrat, 9) dapat
meningkatkan flavour produk akhir, 10) tidak memproduksi
senyawa asam amino, 11) dapat membunuh bakteri pembusuk dan patogen, dan 12)
bersifat sinergis dengan senyawa starter lain.
Starter bakteri asam
laktat yang banyak digunakan biasanya dari golonganLactobacillus.
Penggunaan kultur starter dalam pembuatan sosis fermentasi dilakukan untuk
meningkatkan mutu produk produk dengan meningkatakan keamanan produk, memperpanjang
umur simpan, dan menghasilkan produk yang konsisten.
Lactobacillus
plantarum merupakan
bakteri berbentuk batang, umumnya berukuran 0,7-1,0 sampai 3,0-8,0 mikron,
tunggal atau dalam rantai-rantai pendek, dengan ujung yang melingkar. Organisme
ini cenderung berbentuk batang pendek dalam kondisi pertumbuhan yang
sesuai dan akan cenderung lebih panjang di bawah kondisi yang tidak
menguntungkan. Bakteri ini termasuk homofermentatif dengan suhu minimum 10°C,
maksimum 40°C dan optimum 30°C. Lactobacillus plantarummampu
memproduksi H2O2 dalam jumlah yang tinggi dan
berfungsi sebagai antibakteri yang dapat menyebabkan adanya daya hambat
terhadap pertumbuhan mikroorganisme lain.
1. Selongsong
Selongsong adalah
bahan pengemas sosis yang umumnya berbentuk silindris. Selongsong sosis dapat
berfungsi sebagai cetakan selama pengolahan, pembungkus selama penanganan dan
pengangkutan serta sebagai media display selama diperdagangkan. Penggunaan casing dalam
pembuatan sosis bertujuan untuk membentuk dan menjaga stabilitas sosis serta
melindungi dari kerusakan kimia seperti oksidasi, mikroba, atau kerusakan fisik
seperti ketengikan.
Terdapat 5 jenis casing yang
sering digunakan dalam pembuatan sosis yaitu alami, kolagen, selulosa, plastic,
serta logam. Casing alami biasanya terbuat dari usus alami
hewan, casing ini mempunyai keuntungan dapat dimakan, bergizi
tinggi dan melekat pada produk, sedangkan kerugian dari casing ini
adalah produk ini tidak awet. Casing kolagen biasanya berbahan
baku dari kulit hewan besar, keuntungan dari jenis casing ini dapat diwarnai,
bisa dimakan, dan melekat pada produk. Casingselulosa biasanya
berbahan baku pulp. Keuntungan dari casing selulosa adalah
dapat dicetak atau diwarnai dan murah. Kekurangan dari casing ini
adalah sangat keras dan dianjurkan untuk tidak dimakan.
Proses pembuatan sosis
fermentasi meliputi tahapan persiapan, chilling/ freezing,
pemberian bumbu dan pencampuran, filling/ pengisian, fermentasi,
pengasapanaging/ drying, dan penyimpanan.
1. Persiapan
Pada tahap ini,
dilakukan pemilihan daging yang baik kemudian dipotong-potong menjadi bagian
yang lebih kecil. Daging tersebut kemudian dicincang menjadi daging yang lebih
halus. Dalam tahap ini harus dilakukan proses penanganan yang tepat agar daging
tidak mengalami kontaminasi silang.
1. Chilling/ Freezing
Pertumbuhan
mikroorganisme dalam pangan dapat dicegah dengan cara penurunan suhu. Terdapat
dua macam pengawetan dengan suhu rendah, yaitu pendinginan carachilling dan deep-feezing (pembekuan
pada suhu sangat rendah).
Pada pendinginan cara chilling,
pangan ditempatkan pada suhu diatas titik beku air (diatas 0°C). Suhu di dalam
alat pendingin rumah tangga adalah dalam kisaran 0-5°C. Pertumbuhan hampir
semua mikroorganisme diperlambat dan beberapa diantaranya dapat mengalami
kematian. Namun beberapa mikroorganisme tetap tumbuh lambat pada suhu tersebut
dan spora bakteri tetap bertahan hidup.
Pada deep-freezing,
pangan disimpan pada suhu -18°C atau lebih rendah lagi.Freezing tidak
dapat mensterilkan makanan atau membunuh mikroorganisme pembusuk yang
menyebabkan bahan atau produk rusak, melainkan hanya mampu menginaktifkan kerja
dari enzim bakteri pembusuk, sehingga dapat memperlambat kerja dari mikroba
pembusuk tersebut.
1. Pemberian Bumbu dan Pencampuran
Bumbu-bumbu yang
digunakan dalam pembuatan sosis adalah lada, pala ,bawang putih, gula dan
garam. Jumlah dan variasi bumbu yang digunakan tergantung selera, daerah dan
aroma yang dikehendaki. Setelah daging dicincang halus, bumbu-bumbu ditambahkan
pada adonan daging cincang kemudian dicampur hingga merata. Sluri dibuat dari
bumbu-bumbu dan garam menggunakan dua gelas air lalu dicampur merata.
Penambahan air bertujuan untuk memecah curing agents, memfasilitasi proses
pencampuran dan memberikan karakteristik tekstur dan rasa pada produk sosis.
1. Filling/
Pengisian
Stuffing merupakan tahap pengisian adonan sosis ke dalam
selongsong. Pengisisan adonan sosis ke dalam selongsong tergantung tipe sosis,
ukuran kemudahan proses, penyimpanan serta permintaan konsumen. Pemasukan
adonan sosis ke dalam casing menggunakan alat khusus (disebut stuffer)
yang bertujuan membentuk dan mempertahankan kestabilan sosis.
1. Fermentasi
Tahapan ini merupakan
tahap peningkatan suhu sosis yang memungkinkan bakteri alami tumbuh dan bereaksi
dengan daging. Fermentasi merupakan tahapan penting pada proses pembuatan sosis
dan suhu yang tepat juga memainkan peran yang penting. Semakin tinggi suhu,
maka semakin tinggi kecepatan pertumbuhan bakteri. Suhu pertumbuhan yang
terbaik adalah suhu tubuh kita (36,6°C).
1. Pengasapan
Pengasapan dilakukan pada suhu 70°C selama 30 menit,
asap diusahakan menempel dan masuk ke dalam casing sehingga sosis berflavor
asap. Pengasapan adalah suau cara pengawetan bahan makanan terutama pada daging
dan ikan. Pengasapan dapat memberikan cita rasa khas, mengawetkan, dan
memberikan warna yang khas.
1. Aging/ Drying
Pengeringan merupakan suatu metode untuk mengurangi/
mengeluarkan sebagian air dari sosis dengan cara menguapkan air tersebut dengan
menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air sosis dikurangi sampai batas
agar mikroba tidak dapat tumbuh didalamnya. Kadar air berpengaruh terhadap
tekstur sosis. Pengeringan dapat menurunkan kandungan air dan menyebabkan
pemekatan dari bahan-bahan yang ditinggal seperti karbohidrat, lemak, protein
sehingga bahan pangan memiliki kualitas simpan yang lebih baik.
2. Penyimpanan
Faktor yang mempengaruhi stabilitas penyimpanan dalam
pangan meliputi jenis dan bahan baku yang digunakan, metode dan keefektifan
pengolahan, jenis dan keadaan kemasan, perlakuan mekanis yang cukup berat dalam
produk yang dikemas dala penyimpanan, dan distribusi dan juga pengaruh yang
ditimbulkan oleh suhu dan kelembaban penyimpanan.
Mekanisme Reaksi
Selama Proses Pembuatan Sosis Fermentasi
Dalam sosis fermentasi terdapat kandungan makromolekul
seperti karbohidrat, protein, lemak dan fosfolipid. Karbohidrat akan mengalami
metabolisme oleh mikroba sehingga dipecah menjadi asam-asam organik. Enzim yang
terdapat pada daging akan memecah protein menjadi molekul yang lebih kecil,
yaitu peptida dan asam amino pada reaksi proteolisis. Sedangkan enzim lain yang
juga terdapat pada daging akan memecah lemak dan fosfolipid menjadi asam lemak
bebas pada reaksi hipolisis.
Asam-asam organik hasil pemecahan karbohidrat akan
mempengaruhi rasa(taste) dari sosis. Asam lemak bebas yang berasal
dari reaksi hipolisis (pemecahan lemak dan fosfolipid) akan mempengaruhi aroma (flavor) sosis.
Sedangkan peptida dan asam amino hasil pemecahan protein akan mempengaruhi rasa
dan aroma sosis.
Pengendalian Proses
Pembuatan Sosis Fermentasi
Tahapan
Proses
|
Sosis
Semi Kering
|
Sosis
Kering
|
Persiapan
|
Suhu
daging <7°C; pH <5.8; tidak ada kontaminasi silang
|
|
Chilling/Freezing
|
Suhu
daging <2°C
|
|
Pemberian
Bumbu dan Pencampuran
|
100-125
mg NaNO2/kg;Pediococcus acidilactici; Gula 0,5-0,8%; Aw
0,95
|
50-70
mg NaNO2/kg;Lactobacillus atauPediococcus atau
campuranMicrococcus danLactobacillus; Gula 0,3-0,5%;
Aw 0,95
|
Fermentasi
|
20-25°C;
2-3 hari; pH<5.3
|
18-22°C;
3 hari; pH<5.3
|
Aging/Drying
|
<15°C;
RH 70-80%; Aw 0.93
|
10-15°C;
RH 70-80%; Aw <0.90
|
Penyimpanan
|
<15°C
|
<25°C
|
Karakteristik Sosis
Fermentasi
Sosis fermentasi yang telah jadi akan memiliki
karakteristik pH yang asam, yaitu 4,8-5,3. Pada sosis kering (dry
sausage) akan terjadi penurunan berat sebesar 60-70% dari berat awal
setelah dilakukan proses fermentasi, sehingga kadar air akhir dari sosis kering
yaitu 25-45% dengan ratio perbandingan antara air dan protein sebesar 2,3 : 1.
Sedangkan pada sosis semi kering (semi dry sausage), kadar air pada
akhir prosesnya yaitu 55-60% dengan ratio perbandingan antara air dan protein
sebesar 3,7 : 1.
Pertumbuhan kapang, khamir atau bakteri pada permukaan
sosis dapat menyebabkan kondisi permukaan berjamur atau berlendir. Hal ini
dapat terjadi ketika sosis diperlakukan buruk dan dikeringkan. Kelembaban
menjadi meningkat sehingga suhu penyimpanan berubah, terutama dari suhu rendah
ke suhu yang lebih tinggi. Permukaan yang berlendir dan berjamur ini adalah
akumulasi besar sel mikroba yang dapat menyebabkan perubahan karakteristik pada
produk akhir.
Manfaat Sosis
Fermentasi
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari
pengkonsumsian sosis fermentasi, yaitu:
·
Mempunyai nilai gizi
yang lebih tinggi dari nilai gizi bahan asalnya (mikroorganisme bersifat
katabolik, memecah senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana sehingga mudah
dicerna dan mensintesis vitamin kompleks dan faktor-faktor pertumbuhan badan
lainnya, sebagai contoh vitamin B12, riboflavin, provitamin A)
·
Meningkatkan kesehatan
dengan cara meningkatkan jumlah bakteri baik dalam saluran pencernaan sehingga
dapat menghindarkan dari berbagai macam penyakit terutama penyakit yang
berhubungan dengan saluran pencernaan
·
Memiliki daya cerna
yang tinggi sehingga mudah diserap dan dicerna oleh tubuh
Source : http://lordbroken.wordpress.com/category/ilmu-dan-teknlogi-pangan/pangan-fermentasi/
No comments:
Post a Comment